Saturday, April 16, 2011
II
tersebut sebuah nyanyian yang ku gentarkan. sampai yang di syurga pun keresahan. lalu dengan sarat merintih berdoa. dari unggunan-unggunan kisah. kisah yang tentu saja belum terlupakan. bukakan saja neraka biar terserlah isinya. dari membuang masa mencuci kerak-kerak dosa. menangislah. dengan harapan segala harta diperjudikan. yang tertinggal, tersisa pun ku dustakan. ketawa sajalah, menunggu tiba waktunya..
Friday, April 1, 2011
I
telah ku tunda siksa sampai dewasa. tak juga bergalang gantinya. sedang kau yang bermantera pun merasakan bisa. ini waktunya kepayahan. sedang mati bermula kesenangan. yang terukir dari senyuman hanya manifestasi kegagalan. kerana yang di jelang bukan saja hutan dan singa-singa kelaparan. ahh.. dan duri yang menancap memercikkan lagi darah serta nanah. biar saja. biar tak upaya. dari diterjang ke dasar neraka..
Thursday, March 3, 2011
Tuhan
Tuhan,
Ini malam aku termangu
Mengenang dosa-dosa
Ini malam aku terlena
Dengan air mata
Kirimkan malaikatmu
Aku ingin bicara syurga
Kirimkan jua bidadarimu
Aku ingin bicara cinta
Tuhan,
Jagatmu luas tak terbatas
Aku mengejar syurga teratas..
Ini malam aku termangu
Mengenang dosa-dosa
Ini malam aku terlena
Dengan air mata
Kirimkan malaikatmu
Aku ingin bicara syurga
Kirimkan jua bidadarimu
Aku ingin bicara cinta
Tuhan,
Jagatmu luas tak terbatas
Aku mengejar syurga teratas..
Friday, February 25, 2011
Saturday, February 19, 2011
Diktator Humanism
Magisnya hidup
Manusia bersatu di tangan diktator-diktator manusiawi
Kemanusiaan mendaki puncaknya
Walau dibingit jeritan demokrasi
Malangnya hidup
Manusia tenggelam dalam laungan reformasi
Panji hipokrasi dijulang tinggi
Sepanduk kapitalis dijampi-jampi
Lalu dipasak pada kubur manusiawi
Menjadi nesan ngeri di bumi sendiri
Suara suara waras masih memanggil nama
Suharto
Dari celah jurang ekonomi
Tangan-tangan luka terus
mengukir nama Castro
Pada dinding kubur manusiawi.
Manusia bersatu di tangan diktator-diktator manusiawi
Kemanusiaan mendaki puncaknya
Walau dibingit jeritan demokrasi
Malangnya hidup
Manusia tenggelam dalam laungan reformasi
Panji hipokrasi dijulang tinggi
Sepanduk kapitalis dijampi-jampi
Lalu dipasak pada kubur manusiawi
Menjadi nesan ngeri di bumi sendiri
Suara suara waras masih memanggil nama
Suharto
Dari celah jurang ekonomi
Tangan-tangan luka terus
mengukir nama Castro
Pada dinding kubur manusiawi.
Wednesday, December 1, 2010
Fate dependent man
I am a fate dependent man,
Live by my conscience,
Waiting for fate to determine,
And to loss all my chances.
I am a fate dependent man,
Had a dream of a perfect life,
Till fate said what it is destined,
And took all dreams out of my mind.
I am a fate dependent man,
Used to strive for the best,
Though I know sometimes,
I’ll fail myself.
I am a fate dependent man,
Stranded between heaven and hell,
With some sins to repent,
Drive me out of my kind.
Live by my conscience,
Waiting for fate to determine,
And to loss all my chances.
I am a fate dependent man,
Had a dream of a perfect life,
Till fate said what it is destined,
And took all dreams out of my mind.
I am a fate dependent man,
Used to strive for the best,
Though I know sometimes,
I’ll fail myself.
I am a fate dependent man,
Stranded between heaven and hell,
With some sins to repent,
Drive me out of my kind.
Sunday, October 17, 2010
Wound
Having to forget a pain
Causes us another pain
The more we forget
The closer it’ll get
The harder it engraves
The deeper it gashes
The less sensitive we be
So be it
Be we repent
Be we acquiesce
And so we die
We die painlessly.
Causes us another pain
The more we forget
The closer it’ll get
The harder it engraves
The deeper it gashes
The less sensitive we be
So be it
Be we repent
Be we acquiesce
And so we die
We die painlessly.
Subscribe to:
Posts (Atom)